DUNIA FANA

Kata fana berasal dari bahasa Arab yaitu al-fana’ yang mengandung arti hilangnya wujud sesuatu. Kata ini lantas diserap dalam bahasa Indonesia, menjadi fana. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti fana adalah dapat rusak, hilang, mati, atau tidak kekal. Berdasarkan arti tersebut, wajar jika kata fana sering dipakai untuk menggambarkan suatu hal yang tidak bersifat abadi dan bisa rusak, hilang, atau bahkan musnah sewaktu-waktu.

HIDUP DI DUNIA INI SEMENTARA TIDAK ABADI,MAKA DARI ITU MARI KITA PERGUNAKAN LAH HIDUP INI UNTUK MENCARI ILMU YG BERMANFAAT, DAN MENGAMALKAN NYA SEMATA” HANYA MENCARI RAHMAT DAN RIDHO NYA SEMATA.

Rasulullah SAW Ingatkan Umatnya Jangan Jadikan Dunia Ambisi

Perbandingan antara dunia dan akhirat bisa diukur dengan seseorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam air laut. Lihatlah, seberapa banyak air yang ia dapatkan di jari tangannya itu.” (HR Ibnu Majah)

Pada satu saat, Usman bin Affan bercerita, ”Suatu saat di tengah hari, aku melihat Zaid bin Tsabit keluar dari istana Marwan. Dalam hati, saya bertanya-tanya, ada apakah ia gerangan pada saat seperti ini? Aku yakin, pasti ada sesuatu yang penting ia bawa.” Usman mendekati Zaid dan langsung bertanya, ”Ada apa gerangan wahai Zaid?”Zaid menjawab, ”Aku membawa sesuatu yang aku dengar langsung dari Nabi SAW.” Usman bertanya lagi, ”Apa yang Nabi SAW sabdakan kepadamu?” Zaid menjawab, ”Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang menjadikan dunia sebagai ujung akhir ambisinya, Allah akan pisahkan ia dengan yang diinginkannya (dunia), lalu Allah akan menjadikan kefakiran membayang di pelupuk kedua matanya. Padahal Allah sudah pasti akan memberikan dunia kepada setiap manusia sesuai dengan yang telah Ia tetapkan. Tapi siapa yang menjadikan akhirat sebagai ujung akhir ambisinya, maka Allah akan mengumpulkan dan mencukupi segala kebutuhannya di dunia. Lebih dari itu, Allah akan membuat hatinya menjadi kaya. Dunia akan selalu mendatanginya, meskipun ia enggan untuk menerimanya’. (HR Ibnu Majah dari Usman bin Affan).

Sementara itu, Allah SWT berfirman dalam sebuah hadis qudsi, ”Wahai anak cucu Adam, kalian mencurahkan segala ibadah hanya karena ingin ridla-Ku, pasti akan Aku penuhi hatimu dengan kekayaan. Aku juga akan tutup kefakiranmu. Jika tidak demikian, Aku akan penuhi hatimu dengan segala kesibukan. Aku juga tidak akan menutupi kafakiranmu.” (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

  • Kitab awamil
    Kitab Matan Awamil Mandaya (jawa serang) بسم الله الرّحمن الرّحيمNgawiti isun kelawan nyebut asmane Allah kang murah ingdalem dunia turkang welas asih ingdalem akhirat balaka إِعْلَمْ أَنَّ اْْلعَوَامِلَ فِى النَّحْوِ مِائَةُ عَامِلٍWeruhe sire ing setuhune pire-pire amil ingdalem ilmu nahwu iku satus amil لَفْظِيَةٌ وَمَعْنَوِيَةٌSiji ‘Amil Lafdzi Lan Kapingdo ‘Amil Ma’nawi فَاللَّّفْظِيَةُ مِنْهَا عَلَى ضَرْبَيْنِى…Lainnya
  • Penjelasan dzikir syathoriyah
    dzikir laa ilaha illa Allah merupakan pembuka pintu hati. Dzikir Allahmerupakan pembuka pintu hati ma‟nawi. Dan dzikir huwa merupakanpembuka hati sir.Lainnya
  • METODE ILMU SHOROF BAHASA ARAB
    PEMBAHASANA.     Pengertian Fi’il Tsulatsy MazidFi’il Tsulatsy Mazid ialah kalimat yang fi’il madzinya memuat lebih dari 3 huruf, dengan rincian yang 3 huruf asal, dan yang lain berupa huruf tambahan, contoh: اِجْتَمَعَ . secara garis besar fi’il tsulatsy mazid terbagi tiga macam:Berikut adalah pembagian Fi’il, yaitu;1.      Fi’il tsulatsy mazid ruba’i, yaitu: Kalimah yang fi’il madzinya terdiri…Lainnya
  • Ilmu shorof bahasa arab
  • SILSILAH AGUNG THORIQOH SYATHORIYAH

https://youtube.com/shorts/ZJllLgP-F6g?feature=share

janganlah menjadikan dunia sebagai ambisi final, karena dunia sejatinya hanyalah tempat persinggahan sementara. Terminal akhir adalah akhirat. ”Carilah nilai akhirat yang telah Allah sebarkan dalam kehidupanmu, tapi, jangan lupakan dunia. Berbuat baiklah di dunia sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu.” (Al-Qashash: 77). 

orang yang menjadikan akhirat sebagai ambisinya, akan Allah SWT cukupi segala kebutuhan hidupnya. Nabi SAW mengibaratkan bahwa seandainya ia enggan menerima, harta itu akan tetap datang mengelilinginya. Kenapa enggan? Rasulullah SAW mengatakan bahwa orang beriman itu sudah cukup kaya hatinya.

Tinggalkan Komentar